Saturday, 17 December 2016

belajar efektif


Cara Belajar yang Efektif, Efisien, dan Menyenangkan
DMCPGW  = Doa, metode, cHunking, Pengulangan,Gaya belajar, Waktu
  dayung mantap ceria pakuan  ganti wanita



Cara Belajar yang Efektif, Efisien, Menyenangkan, dan Sukses- Sahabat Pembaca, menurut KBBI belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Bagaimana cara agar belajar kita efektif ( dapat membawa hasil/berhasil/sukses ), efisien ( tepat menghasilkan sesuatu dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya), dan menyenangkan ?. Semua orang memiliki trik sukses belajar yang  berbeda dan setiap orang memiliki cara tersendiri yang unik walaupun pada dasarnya sama yakni untuk mencapai tujuan bisa paham akan hal yang dipelajarinya. Namun pasti ada beberapa teknik dan metode yang lebih efektif, efesien, dan menyenangkan daripada yang lain.

Jadi apa cara yang terbaik untuk memfasilitasi agar  pengetahuan dapat masuk dan berkembang di dalam memori kita secara abadi ? Apakah ada suatu teknik/metodologi belajar yang terbukti jitu untuk diterapkan ke semua subjek belajar? Apa cara belajar yang terbaik untuk Anda?

Cara Belajar yang Efektif, Efisien, dan Menyenangkan
 Belajar Efektif, Efisien, dan Menyenangkan via Akademi Farmasi

Metode/Cara Belajar yang Efektif, Efisien, dan Menyenangkan

1. Berdo'a

Berdo'alah sebelum melakukan sesuatu,dalam hal ini berdo'alah sebelum belajar.Do'a merupakan kekuatan yang sangat ampuh agar kita dapat sukses dalam belajar. Dengan berdo'a sebelum belajar,maka pikiran dan hati kita tenang. Dengan meminta petunjuk dari yang memberi nikmat akal pikiran, juga merupakan/sebagai wujud rasa syukur kita kepada-Nya.

2. Kenali metode berpikir

Sebelum Anda mengenali cara belajar yang selama ini Anda gunakan, sebaiknya ketahui dulu tentang metode berpikir kita atau bisa juga disebut model berpikir kita. Adapun metode berpikir yang saya maksud yaitu metode fokus dan difus

a. Metode berpikir fokus

Metode berpikir fokus adalah metode berpikir yang terpusat pada satu objek. Metode fokus sering yang terjadi/kita lakukan ketika kita belajar tentang ilmu pengetahuan yang membutuhkan perhatian penuh. Misalnya saat kita membaca buku, menghafal sesuatu, memperhatikan dan mendengarkan penjelasan Guru, menonton televisi, dan lain sebagainya yang membutuhkan konsentrasi.

b. Metode berpikir difus

Di kamuskesehatan.com, difus berarti menyebar, tidak terlokalisasi atau terbatas; menyebar luas melalui jaringan atau zat. Metode berpikir difus/menyebar mengandung pengertian bahwa dalam mempelajari/mengingat/memahami sesuatu tidak dengan perhatian khusus atau bisa dikatakan cara berpikir di belakang layar.

Contoh kasus :


Artikel Terkait
Tujuan, Manfaat, dan Kelemahan Pembelajaran di Luar Kelas
Pengertian dan Contoh Metode Belajar Sambil Bermain
Cara Belajar yang Efektif, Efisien, dan Menyenangkan
9 Cara Mengajari Anak Agar Cepat Bisa Membaca
Biasanya Hari Pertama Masuk Sekolah Disuruh Mengarang oleh Bapak/Ibu Guru


Fulan adalah Siswa Kelas 6, pada jam kegiatan belajar matematika di sekolahnya,dia kurang paham dengan materi pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Pada jam istirahat, sambil menikmati jajan yang dibelinya, diam-diam si Fulan masih memutar otak pikirannya untuk memecahkan masalah/memahami tentang pelajaran matematika yang belum dipahaminya. Akhirnya si Fulan pun kini sudah mengerti/paham tentang materi matematika tersebut.
Saat Priyo akan berangkat kuliah, dia kebingungan karena lupa kunci/kontak sepeda motornya ditaruh di mana. Dia mondar-mandir mencari kunci tersebut. Sudah dicari di  tempat mana pun tetapi belum juga ditemukannya. Dengan rasa kesal dan lelah akhirnya Priyo ke dapur untuk mengambil air minum.Saat Priyo sedang meminum air, tiba-tiba dia ingat bahwa kunci sepeda motornya kemarin di taruh di bawah kasur tempat tidurnya.
Pada contoh kasus yang pertama si Fulan dapat memahami pelajaran pada saat dia mengerjakan aktivitas yang lain yakni sedang makan jajan. Sedangkan pada contoh kedua,Priyo juga mengingat kuncinya setelah dia melakukan kegiatan yang lain yakni saat minum.Sebenarnya banyak contoh yang lain seperti seorang Ibu ingat jarum pentulnya yang hilang saat Ibu sedang menjalankan Ibadah. Apakah Anda pernah mengalami hal sejenis seperti contoh tersebut?

Metode berpikir fokus dan difus tentunya sering kita lakukan, baik untuk memecahkan suatu masalah yang terkait dengan materi pelajaran maupun masalah hidupdan kehidupan sehari-hari.

2. Chunking

Chunking adalah proses dimana Anda mencoba untuk memahami sesuatu yang kompleks dengan memecahnya dan bekerja pada unit yang lebih kecil ("potongan"). Misalnya, dalam belajar bahasa baru, Anda belajar frase, tata bahasa,  dan lain-lain yang akan membantu Anda membangun kalimat kompleks. Chunking membuat mata pelajaran yang sulit lebih mudah dikelola. Manfaat lain untuk chunking adalah bahwa hal itu dapat membantu Anda dalam chunking masa depan, bahkan ketika Anda belajar sesuatu yang sama sekali berbeda.

Contoh kegiatan:
saat pembelajaran di Sekolah, tulislah kata-kata kunci atau kata penting yang sedang disampaikan oleh Guru
saat belajar di rumah, baca lah buku pelajaran sambil mencatat/membuat ringkasan
pandai-pandai lah membuat akronim sesuai/sesuka Anda, yang penting memudahkan Anda dalam mengingat dan memahami pelajaran

3. Pengulangan

Proses memahami pelajaran seseorang dengan yang lainnya tentunya berbeda.  Ada yang memahami suatu pelajaran dengan cara menghafalkan terlebih dahulu dan ada yang tanpa hafalan. Yang tanpa hafalan biasanya karena begitu membaca langsung hafal dan langsung ke proses pemahaman. Dan hal ini juga tergantung apakah materinya tentang ingatan, pemahaman, penerapan, dan sebagainya.

Contoh kegiatan :
hafalkan kembali materi yang sifatnya ingatan. Lakukan pengulangan/hafalan secara bertahap jika memang Anda merasa lebih nyaman dengan cara menghafal pelajaran dengan cara bertahap, namun jika Anda tipenya lebih hafal dengan cara borongan pun tidak masalah, lakukan sesuka hati Anda, asalkan jangan mengorbankan waktu istirahat/tidur Anda.
telaah/pahami materi pelajaran yang sudah atau belum diajarkan oleh Guru. Jika Anda mempelajari dulu materi yang belum disampaikan oleh Guru, maka Anda akan lebih banyak mengulang, di mana saat Guru menyampaikan materi berarti Anda sudah masuk tahap pengulangan sehingga materi pun dengan cepat Anda kuasai.
4. Gunakan gaya belajar yang sesuai

Pilih lah gaya belajar sesuai selera Anda:
jika Anda sedang belajar di sekolah, maka ini terkait dengan metode maupun media pembelajaran yang digunakan oleh Guru. Intinya simak/ikuti secara aktif kegiatan pembelajaran tersebut
jika Anda sedang belajar mandiri di rumah, lakukan sesuka hati, misalnya Anda bisa belajar sambil mendengarkan musik, dan sebagainya
Jadi fokus lah pada proses, bukan produk/hasil. Jika Anda menikmati proses belajar, maka hasil belajar akan lebih Anda nikmati secara abadi.

5. Pilih waktu yang tepat
untuk pembelajaran di sekolah tentunya ikuti jadwal yang ada, jangan sampai Anda membolos
untuk belajar di rumah, pilih lah waktu yang tidak menggannggu jam istirahat Anda, misalnya Anda suka belajar di pagi hari, maka tidur lah lebih awal kemudian bangun di dini/pagi hari dan sempat kan untuk belajar
Demikian tentang Cara Belajar yang Efektif, Efisien, dan Menyenangkan. Semoga bermanfaat

6 syarat mencari ilmu

B

Ini 6 Syarat Mencari Ilmu
CGSBGW = colek   ganti sabun  bayi  golek wanita


Enam Syarat Mencari Ilmu-Menurut Ali Bin Abi Thalib ada 6 syarat mencari ilmu yakni cerdas, giat/rajin ( semangat ), sabar, bekal ( biaya ), petunjuk dari guru, dan waktu yang lama. Enam sayarat tersebut disampaikan oleh Ali Bin Abi Thalib via syairnya yang terjemahannya " Tidak akan berhasil seseorang dalam mencari ilmu kecuali dengan enam syarat, maka akan saya sampaikan kepadamu keseluruhan syarat-syarat tersebut dengan jelas. Cerdas, giat, sabar, mempunyai biaya, adanya petunjuk dari seorang guru, dan dalam waktu yang lama".

Syarat-syarat tersebut berlaku untuk syarat mencari ilmu agama maupun ilmu umum. Untuk lebih jelasnya simak sedikit penjelasan di bawah ini :

1. Cerdas-Menurut Hasan Sadily, dkk, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1997, halaman 186,cerdas dapat diartikan sebagai sempurna dalam perkembangan akal dan budi (untuk berpikir, mengerti ). Anak/Orang yang cerdas juga dapat diartikan sebagai manusia yang tajam pikirannya, sehingga dapat mengingat, menghafal, dan memahami apa yang dipelajarinya dengan cepat. Selain definisi di atas, Muhammad Said Mursi,pada  Op.Cit, halaman 207 menjelasakan bahwa kecerdasan ( intellegensi ) adalah kemampuan untuk memahami keterkaitan antara berbagai hal, kemampuan untuk mencipta, memperbaharui, mengajar, berpikir, memahami, mengingat, merasakan, berimajinasi, memecahkan permasalahan, dan kemampuan untuk mengerjakan berbagai pekerjaan dalam berbagai tingkat kesulitan. Dari definisi tersebut sangatlah tepat apa yang dikemukakan oleh Ali Bin Abi Thalib, di mana cerdas ditempatkan pada syarat yang pertama dalam menuntut ilmu. Jika anak/orang memiliki kecerdasan yang tinggi maka akan cepat menyerap ilmu yang sengaja dipelajari maupun yang tidak sengaja dipelajari, sebaliknya jika seseorang memiliki kecerdasan yang rendah maka akan lebih membutuhkan waktu lama dalam menyerap suatu ilmu.

2. Giat ( Rajin; Semangat )- Giat dalam hal ini diartikan sebagai kegigihan dan keuletan/ketekunan dalam menghadapi problem-problem yang ada dalam proses belajar.

Giat Belajar

3. Sabar-Ada beberapa definisi/pengertian sabar sebagai berikut:


Artikel Terkait
Sejarah, Visi Misi, dan Alamat Website Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI ) Bandung
Ini 6 Syarat Mencari Ilmu
Pemanfaatan Website Sekolah sebagai Sarana Penunjang Pendidikan
Cara Membuat Web Sekolah Gratis dengan Blogger dan Wordpress
Apakah Semua Guru Wajib Mempunyai Website/Blog ?


Sabar adalah tahan dalam menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, dan tidak patah hati. ( Ibid halaman 158-160 )
Sabar ialah tetap dan teguhnya dorongan keagamaan dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. ( Imam Muhyidin An-Nawawi, Al Adzkar, Darul Ihya; Indonesia, hal 4 ).
Definisi sabar menurut bahasa adalah bahwa sabar berasal dari bahasa Arab yakni " Shobaro " yang sudah menjadi bentuk infinitif ( masdar ) " Shobron ". Dari segi bahasa sabar berarti menahan atau mencegah. Kata sabar sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia.
Menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.( http://islamiyyah.mywibes.com/ )
4. Mempunyai biaya- Mempunyai biaya di sini diartikan sebagai ongkos yang mencukupi untuk biaya hidup, sekiranya orang yang mencari/menuntut ilmu  tidak lagi membutuhkan pertolongan dari orang lain dalam masalah rejeki. Jika pencari ilmu, dalam hal ini para siswa yang masih duduk di bangku SD, SLTP, dan SLTA mungkin masalah biaya sudah ditanggung oleh orang tuanya atau walinya, dengan demikian maka seorang pelajar dapat fokus dalam setiap harinya untuk belajar. Apalagi saat sekarang banyak siswa yang menerima BSM.

Seseorang yang sedang mencari ilmu disyaratkan untuk mempunyai biaya (ongkos). Dimaksudkan supaya orang tersebut bisa berkonsentrasi secara penuh dalam mencari ilmu (belajar) sehingga tidak terganggu dengan pemikiran-pemikiran yang lain yang bisa mengganggu dalam proses belajarnya, seseorang tidak mungkin bisa menuntut ilmu dengan baik apabila dia tidak mempunyai biaya untuk membeli alat-alat kebutuhan belajar, seperti buku pelajaran misalnya, atau seseorang tidak akan bisa belajar dengan tenang apabila dia kekurangan uang untuk kebutuhan sehari-hari, seperti halnya kebutuhan untuk makan. Jadi, kalau secara logika  tidak mungkin seseorang bisa belajar dengan baik apabila konsentrasinya masih terpecah dalam masalah biaya kehidupannya, kalaupun orang tersebut bisa menutupi kekurangannya dalam hal biaya (ongkos) ini dengan bekerja sambilan, tetap saja akan mempengaruhi konsentrasinya dalam belajar, sebab orang tersebut konsentrasinya terpecah antara bagaimana cara mencari biaya hidup dengan bagaimana agar pelajaran yang dia dapat bisa dikuasai dengan baik.


Orang Jawa mengatakan “jer basuki mowo beo”, kesuksesan atau kejayaan tidak akan pernah bisa tercapai kecuali dengan adanya biaya. Kiranya hal ini tepat adanya bila dicocokkan dengan persyaratan bulghoh/bekal,sebagaimana ongkos (biaya) mempunyai andil yang sangat besar dalam mencapai kesuksesan atau kejayaan.

5. Adanya petunjuk dari guru-Guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan, sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya (baik sebagai khalifah maupun ‘abd).  Guru bertanggung jawab tidak sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Hal ini mau tidak mau menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didiknya tidak hanya di lingkungan sekolah, tapi juga di luar sekolah. Dengan kata lain, tugas guru adalah melahirkan atau membentuk manusia yang pandai dan berbudi mulia serta taat kepada Tuhan,sehingga mereka (anak didik) menjadi manusia yang berguna, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, serta yang tidak kalah pentingnya ialah manfaat untuk agamanya sehingga mereka mampu mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Guru mempunyai peranan sangat penting dalam proses belajarnya para siswa/pelajar, memang benar ada sesorang yang dapat belajar tanpa guru ( otodidak ), akan tetapi model belajar tanpa guru sangatlah rentan dengan kekeliruan. Menurut saya, jika Anda ingin belajar otodidak tentang kajian ilmu positif apapun dengan sumber buku, internet, dan lain-lain sebaiknya apa yang telah Anda pelajari dan pahami, tanyakanlah tentang kebenarannya  kepada seseorang/guru yang ahli di bidangnya.

6. Waktu yang lama- Yang dimaksud dengan waktu yang lama adalah bahwasanya di dalam mencari ilmu apabila seseorang menginginkan agar benar-benar menguasai suatu ilmu maka haruslah mempelajari ilmu tersebut dalam waktu yang relatif lama, sebab hal-hal yang berhubungan dengan ilmu tersebut sangat banyak sehingga tidak bisa ditempuh dalam waktu yang singkat. Coba Anda hitung berapa banyak disiplin ilmu yang ada dari jenjang pendidikan yang terendah sampai yang tertinggi baik di jenjang pendidikan formal maupun non formal. Mungkin semakin banyak kita belajar maka kita akan semakin merasa bodoh karena begitu banyaknya ilmu yang sebelumnya kita belum pernah mengetahuinya.

Demikian 6 syarat mencari ilmu, semoga kita bisa meniru Ilmu Padi, yang mana semakin berisi maka semakin menunduk. Semoga bermanfaat

Sumber bacaan : http://library.walisongo.ac.id/

Wednesday, 14 December 2016

Menampilkan Bahan Ajar PowerPoint di Moodle

http://amiroh.web.id/


Menampilkan Bahan Ajar PowerPoint di Moodle
Posted By Amiroh On 13 Feb 2012. Under Moodle, PowerPoint
Tags: Bahan ajar SCORM package di Moodle, download ispring terbaru, free ispring 6, ispring for moodle, ispring presenter for Moodle, mambuat bahan ajar di moodle, menampilkan powerpoint di moodle, mengaupload powerpoint ke moodle, menginstal ispring di moodle, powerpoint package for moodle, SCORM moodle, scorm package moodle
Jika anda biasa memberi materi kepada siswa dalam bentuk bahan ajar PowerPoint (*.pptx) di E-Learning Moodle, maka anda bisa menggunakan dan menampilkan bahan ajar tersebut secara online (langsung) dari Moodle, tanpa harus mendownloadnya terlebih dahulu (dan membacanya secara offline).

iSpring presenter, menyediakan format SCORM 2004r3 yang bisa anda adaptasikan dengan LMS Moodle. iSpring Presenter mengkonversikan File .ppt/pptx anda ke dalam format SWF kemudian mengkompresnya ke dalam format SCORM. Dengan menggunakan format ini, Ukuran Bahan ajar PowerPoint anda akan dikompres hingga 97%, sehingga tampilan presentasi? akan terasa lebih cepat, meski berformat SWF.

Pun, anda tidak perlu kuatir kehilangan semua Efek animasi yang sudah anda pasang di PowerPoint ( XP/2003/2007/2010 (32- and 64-bit) updated). Bahkan, Jika anda menggunakan Hyperlink, Video, Audio, Animation Trigger-pun, tetap akan bisa dijalankan setelah dipublish di Moodle (Silahkan baca yang ini).

Bagaimana cara mengkonversi PowerPoint menggunakan iSpring Presenter? Silakan baca tulisan saya Nikmati Tampilan Flash dari File Presentasi Anda. Saya langsung ke langkah 2 saja (supaya tidak terlalu panjang tulisan ini 🙂 )

Pada langkah 2, berilah centang pada pilihan “Generate SCORMr3 Compliant Course”.
Klik Publish.
Maka anda akan mendapatkan 1 file berformat .zip yang nantinya akan kita upload ke Moodle.

Cara Meng-upload File SCORM ke Moodle :

1. Masuklah ke Course anda dan aktifkan Mode edit dengan mengeklik Turn editing On.

2. Tambahkan Resource baru dengan mengeklik Add a resource dan pilih IMS Content Package.

Maka halaman “Adding a new IMS content packageHelp with IMS content package” akan ditampilkan :



Isikan :

Name : dengan Judul Bahan Ajar

Description : dengan Deskripsi bahan ajar

Choose a file : Klik dan pilih file berformat SCORM (zip) yang akan diupload ke Moodle, jika sudah klik Upload this file

3. Klik Save and return to course.

Maka akan ditampilkan bahan ajar yang baru saja anda upload:



Jika anda klik, maka akan tampil :

4. Selanjutnya aturlah tampilan presentasi anda tersebut supaya bisa terlihat penuh (fullscreen) dengan mengubah Settingan SCORM Package pada :

Setting > Site Administration > Plugins > Activity Modules > SCORM Package.

Pada bagian Width dan Height, berilah nilai mulai dari 100px – 800 px, atau anda bisa memberi nilai dalam bentuk 100%, misalnya 80% dst.

Berilah tanda centang (checklist) pada bagian Allow windows to resized dan Allow window to be scrolled.

Dan Klik tombol Save changes.

Untuk melihat presentasi secara Fullscreen, klik pada bagian kanan bawah Flash Playernya :

Saturday, 26 November 2016

Effek Chess1

Procedia - Social and Behavioral Sciences 192 ( 2015 ) 638 – 643
Available online at www.sciencedirect.com
1877-0428 © 2015 The Authors. Published by Elsevier Ltd. This is an open access article under the CC BY-NC-ND license
(http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/).
Peer-review under responsibility of Academic World Research and Education Center.
doi: 10.1016/j.sbspro.2015.06.111
ScienceDirect
2nd GLOBAL CONFERENCE on LINGUISTICS and FOREIGN LANGUAGE TEACHING,
LINELT-2014, Dubai – United Arab Emirates, December 11 – 13, 2014
The Effect Of Playing Chess On The Concentration Of
ADHD Students In The 2nd Cycle
Dr.Badrie Mohammad Nour ElDaoua *, Sara Ibrahim El-Shamieh a
a Lebanese University-Faculty of Education, Fern El Shebek, Beirut, Lebanon
Abstract
The study examines the effect of playing chess on the concentration of students with Attention Deficit Hyperactivity Disorder
(N=14, age: 11-13). The study hypothesized that chess improves concentration period and listening language skills. The sample
was chosen from two schools with inclusion, students received chess training twice per week. Pre- and post- measurements of
Conner’s Teachers Rating Scale: Revised-Long version, concentration tasks, and scores of school language listening tests were
the data collection tools of the study. Results showed improvement in concentration skill and period, and in listening score.
© 2015 The Authors. Published by Elsevier Ltd.
Peer-review under responsibility of Academic World Research and Education Center.
Keywords: ADHD, Chess, concentration, listening skills
1. Introduction
Students diagnosed with ADHD can develop their reasoning skills and higher level thinking capabilities when
allowed to discuss and compare their ideas. Such skills as (Storey, 2000) advocated are reinforced through playing
chess. Research showed that chess instruction can strengthen student’s patience, perseverance, concentration and
creativity (Smith, 1998). Moreover, due to parent’s reservations towards providing their child with medication,
several studies were conducted about interventions to reduce ADHD symptoms. The importance of this study is that
it is a new topic in the research field that examines chess for the students having ADHD. The study will examine the
benefit of learning chess and its rules on the concentration skill and period, as well as on the school listening
language score of the 6th grade students with ADHD who receive special learning support.
* Badrie Mohammad Nour ElDaou Tel:+213617324234
E-mail address: badriyadaw@yahoo.com
© 2015 The Authors. Published by Elsevier Ltd. This is an open access article under the CC BY-NC-ND license
(http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/).
Peer-review under responsibility of Academic World Research and Education Center.















English1

1makan = eat
2Minum = drink
3jalan     = walk
4. pergi     =  Go
5. home    = Rumah
6. sholat    = Pray
7. pintar  =  clever
8. Bodoh  = stupid
9   bak Mandi  =Bathroom
10  belajar  =  studi


    To   be have  fun Every  day



Saturday, 19 November 2016

Materi filsafat

BAGAIMANA LOGIKA BEKERJA
PADA STATEMENT OF THE ART DARI PROPOSAL DISERTASI ?
(HOW LOGIC WORKS ON STATEMENT OF THE ART OF DISSERTATION PROPOSAL?)




Oleh:

Bambang Krismono
Hetty Rohayani. AH
Teguh Wahyono
Herman Bedi
Safrizal






TUGAS 2
MATA KULIAH : PHILOSOPHY OF SCIENCE

Dosen : Dr. Yosef Dedy Pradipto, L.Th, M.Hum



Description: logo S3-fc





DOCTOR OF COMPUTER SCIENCE
BINUS GRADUATE PROGRAM
BINUS UNIVERSITY
2016
BAGAIMANA LOGIKA BEKERJA PADA STATEMENT OF THE ART DARI PROPOSAL DISERTASI ?
(HOW LOGIC WORKS ON STATEMENT OF THE ART OF DISSERTATION PROPOSAL?)

Oleh :
Hetty Rohayani, Teguh Wahyono, Herman Bedi, Safrizal, Bambang Krismono
Program Doctor of Computer Science, Bina Nusantara University


I.  PENDAHULUAN

Logika berhubungan dengan cara atau proses penalaran (reasoning). Ilmunya disebut ilmu logika (logic, the science of reasoning). Jika proses penalaran berjalan dengan baik, maka proses itu disebut logis. Secara umum penelitian merupakan proses penemuan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seorang manusia. Penelitian (riset, research) merupakan proses yang dilakukan manusia untuk mencari kebenaran (truth). Dalam proses itu terdapat tahapan yang diurut secara logis (Haliman, 2013).
Dengan pengertian di atas, maka logika merupakan unsur utama dalam sebuah kegiatan penelitian. Makalah ini akan membahas tentang konsep dasar logika dampai dengan bagaimana kaitan logika dalam penelitian, khususnya dalam penyusunan proposal disertasi.

II. KONSEP  DASAR LOGIKA

            Logika adalah Ilmu yang mengevaluasi argumen. Sedangkan argumen adalah sekelompok statemen terdiri dari satu atau lebih premis dan satu kesimpulan (Hurley, 2012). Argumen adalah rangkaian pernyataan-pernyataan yang mempunyai ungkapan pernyataan penarikan kesimpulan (inferensi).
Gambar 1. Hubungan Premis dan Kesimpulan : (Hurley, 2012. Hlm 3)

Untuk membedakan premis dari kesimpulan, dapat dilakukan dengan mencari :
     kata Indicator ( "karenanya," "Oleh karena itu," "karena", dll)
     Sebuah hubungan disimpulkan antara pernyataan

Tidak semua kelompok pernyataan adalah argumen. Untuk membedakan argumen dari nonarguments, mencari: kata-kata:
     Indikator ( "karenanya," "karena," dll)
     Sebuah hubungan disimpulkan antara pernyataan
     jenis Khas nonarguments (peringatan, pernyataan, ayat-ayat yg menerangkan, dll)

Yang paling bermasalah jenis nonarguments: (Hurley, 2012. Hlm.16 )
     kalimat-kalimat Ekspositori (Apakah kalimat topik dibuktikan dengan pernyataan lainnya?)
     Ilustrasi (bisa lorong menjadi argumen dari contoh?)
     Penjelasan (bisa explanandum juga menjadi kesimpulan?)

Pernyataan bersyarat mengungkapkan relasi antara syarat dan kondisi yang diperlukan: (Hurley, 2012. Hlm.22 )
     A adalah kondisi yang diperlukan untuk B: terjadinya A adalah semua yang diperlukan untuk terjadinya B.
     A adalah kondisi yang diperlukan untuk B: A tidak dapat terjadi tanpa terjadinya B .

Gambar 2. Statemen Kodisional (Hurley, 2012, hlm 22)


Argumen secara tradisional dibagi menjadi deduktif dan induktif: (Hurley, 2012, hlm 33)
     argumen deduktif: kesimpulan itu mengaku mengikuti harus dari premis.
     argumen Inductive: Kesimpulan itu mengaku mengikuti mungkin dari premis.

Untuk membedakan argumen deduktif dari argumen induktif, mencari :
Frasa indikator  Khusus ( "itu tentu berikut bahwa," "mungkin berikut bahwa," dll)
     Kekuatan sebenarnya dari hubungan inferensial antara premis dan kesimpulan
     bentuk khas atau gaya argumentasi: (Hurley, 2012, hlm 51)
■ bentuk deduktif: argumen berdasarkan matematika, argumen dari defi nisi, dan kategoris, hipotetis, dan disjungtif silogisme
■ bentuk Induktif: Prediksi, argumen dari analogi, generalisasi, argumen dari otoritas, argumen berdasarkan tanda-tanda, dan kesimpulan kausal

Gambar 3. Diagram pengelompokan argument (Hurley, 2012. Hlm 53)




Mengevaluasi argumen (baik deduktif atau induktif) melibatkan dua langkah: (Hurley, 2012, 53)
     Mengevaluasi hubungan antara premis dan kesimpulan
     Mengevaluasi kebenaran premis argumen

Deduktif yang valid, tidak sah, suara, atau tidak sehat.
     Valid: Kesimpulannya sebenarnya mengikuti dari premis.
     Suara: Argumen ini berlaku dan memiliki semua premis yang benar.

Argumen induktif kuat, lemah, meyakinkan, atau uncogent.
• Kuat: Kesimpulannya sebenarnya mengikuti dari premis.
• Sangat kuat: Argumen ini kuat dan memiliki semua premis yang benar.

Validitas argumen deduktif ditentukan oleh bentuk argumen ini. Formulir yang tidak valid memungkinkan untuk contoh substitusi memiliki premis yang benar dan sebuah kesimpulan yang keliru. (Hurley, 2012,60)

■ metode-terbalik: (Hurley, 2012, hlm 64)
    Apakah digunakan untuk membuktikan ketidakabsahan.
    Terdiri dalam mengidentifikasi bentuk argumen yang tidak valid diberikan dan memproduksi contoh substitusi memiliki  dan sebuah kesimpulan yang keliru.
    Ini membuktikan bentuk yang tidak valid, yang membuktikan argumen yang diberikan tidak valid.

Gambar 4. Argumentasi dan Penjelasan. (Hurley, 2012. Hlm.21)






Struktur argumen lagi dapat diungkapkan dengan metode diagram.
Empat pola argumen dasar: (Hurley, 2012. Hlm 65)
• Pola Vertikal : Pola vertikal terdiri dari serangkaian argumen di mana kesimpulan dari argumen logis sebelum menjadi premis argumen berikutnya. (Hurley, 2012. Hlm 65)


Diagram di atas menunjukkan bahwa pernyataan 1, yang merupakan kesimpulan utama, didukung oleh 2, yang pada gilirannya didukung oleh 3, yang pada gilirannya didukung oleh 4. Contoh:
1 Penjualan organ tubuh manusia, seperti hati, ginjal, dan kornea, harus dilarang. 2 Membiarkan organ tubuh manusia yang akan dijual pasti akan mengarah pada situasi di mana hanya orang kaya akan mampu membayar transplantasi. Hal ini karena 3 setiap kali sesuatu yang langka dibeli dan dijual sebagai komoditas, harga selalu naik. 4 Hukum penawaran dan permintaan memerlukan itu.

• Pola Horizontal : Pola horisontal terdiri dari satu argumen di mana dua atau lebih premis memberikan dukungan independen untuk kesimpulan tunggal dihilangkan, yang lain (s) akan terus mendukung kesimpulan dengan cara yang sama. (Hurley, 2012. Hlm 66)

 



diagram ini diatas menunjukkan bahwa pernyataan 2, 3, dan 4 dukungan 1 secara mandiri.
Contoh:
1 Penjualan organ tubuh manusia, seperti hati, ginjal, dan kornea, harus dilarang. 2 Jika praktek ini diperbolehkan untuk mendapatkan pijakan, orang dalam kesulitan keuangan putus asa akan mulai menjual organ mereka sendiri untuk membayar tagihan mereka. Bergantian, 3 orang dengan membungkuk kriminal yang diperlukan untuk membunuh orang-orang muda yang sehat dan menjual organ mereka di pasar gelap. 4 Dalam analisis fi nal, pembelian dan penjualan organ tubuh manusia datang terlalu dekat dengan pembelian dan penjualan kehidupan itu sendiri.


• premis Conjoint : Dua variasi pada pola horizontal dan vertikal terjadi ketika dua atau lebih premis mendukung kesimpulan secara bersama, dan ketika satu atau lebih premis mendukung beberapa kesimpulan.
Variasi pertama kali terjadi ketika premis bergantung pada satu sama lain sedemikian rupa bahwa jika salah satu dihilangkan, dukungan yang lain memberikan akan berkurang atau hancur. Argumen berikut menggambarkan terjadinya premis conjoint: (Hurley, 2012. Hlm 66)
 



Gambar di atas menunjukkan bahwa Pernyataan 1 adalah kesimpulan. Diambil secara terpisah, pernyataan 2 dan 3 memberikan sedikit atau tidak ada dukungan untuk 1, tapi diambil bersama-sama mereka memberikan dukungan. Th di adalah, 2 dan 3 dukungan 1 bersama-sama. hubungan antara tempat diilustrasikan oleh penggunaan brace pada diagram di atas.
Contoh:
1 Membuat orang miskin dari gulungan kesejahteraan mengharuskan kita mengubah pola perilaku mereka. 2 Sebagian besar orang pada kesejahteraan yang putus SMA, orang tua tunggal, atau orang-orang yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan. 3 pola perilaku ini menggagalkan keinginan orang miskin mungkin harus mendapatkan pekerjaan dan memperbaiki kondisi mereka dalam kehidupan.





• Kesimpulan yang lebih dari satu :


Dalam gambar di atas pernyataan bagian ini 1 mendukung 2 dan 3. Karena tidak ada argumen tunggal dapat memiliki lebih dari satu kesimpulan, bagian itu benar dievaluasi sebagai terdiri dari dua argumen. Untuk tujuan kita, namun, kami akan memperlakukannya seolah-olah satu argumen dengan bergabung dua kesimpulan dengan braket: (Hurley, 2012. Hlm 67)

Contoh:
1 Menjatuhkan keluar dari sekolah dan melahirkan anak di luar pernikahan adalah dua penyebab utama kemiskinan di negeri ini. Oleh karena itu, 2 untuk menghilangkan kemiskinan kita harus off insentif er bagi orang untuk mendapatkan ijazah SMA. Juga, 3 kita harus terlebih nd beberapa cara untuk mendorong orang untuk menikah sebelum mereka mulai memiliki anak.

PENALARAN HIPOTESIS

Penalaran hipotetis digunakan untuk memecahkan masalah ketika solusi belum nampak. (Hurley, 2012. Hlm.593).

• Melibatkan empat tahap dasar:
■ Terjadinya masalah
■ Merumuskan hipotesis
■ Implikasi Menggambar dari hipotesis
■ Pengujian implikasi

• Empat contoh yang diambil dari ilmu:
■ Penemuan radium oleh Marie Curie
■ Penemuan Neptunus oleh Adams dan Leverrier
■ Penemuan tekanan atmosfer oleh Torricelli
■ Bantahan dari generasi spontan oleh Louis Pasteur

• Jenis hipotesis
■ empiris
   bisa dibuktikan benar atau salah.
■ Teoritis
 ▶ hanya Bisa kerahasiaan rmed dalam berbagai derajat.
■ Kriteria yang menanggung pada penerimaan tentatif hipotesis:
  Adequacy ( Apakah hipotesis sesuai dengan fakta)
  koherensi internal ( Apakah komponen ide-ide saling berhubungan)
  konsistensi eksternal (Apakah ada konflik dengan hipotesis lain)
  Berbuah ( Apakah ide-ide baru yang disarankan untuk analisis masa depan)





III. PERAN LOGIKA DALAM PROPOSAL DISERTASI

a. Tentang Disertasi
KBBI (2015) mencatat bahwa disertasi adalah karangan ilmiah yang ditulis untuk memperoleh gelar doktor. Disertasi diturunkan dari bahasa Latin dissertatio, yang berarti wacana. Dalam pandangan umum, definisi disertasi adalah, tugas ekstensif tertulis yang memerlukan penelitian mendalam oleh mahasiswa program doktoral yang diharuskan untuk evaluasi akhir guna mendapatkan gelar doktor. Disamping itu, berikut adalah beberapa definisi disertasi yang dikutip dari berbagai sumber.
     Disertasi adalah essay panjang, khususnya yang ditulis untuk titel atau diploma universitas (Kamus Oxford).
     Disertasi adalah perlakuan sebuah subjek secara diperluas dan biasanya tertulis; khususnya yang diajukan untuk titel doktor (Britannica Encyclopedia).
     Disertasi adalah sebuah dokumen yang menyajikan penelitian dan hasil pengarang dan diajukan untuk mendukung pencalonan sebuah gelar atau kualifikasi profesi (ISO 7144).
Untuk memperjelas perbedaan skripsi, thesis dan disertasi, Abdulah (2013) menyampaikan tabel seperti di bawah ini.
Tabel 1.  Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi (Abdulah, 2013)
No
Aspek
Skripsi
Tesis
Disertasi
1
Jenjang
S1
S2
S3 (tertinggi)
2
Permasalahan
Dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam
Diangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat  mendalam
Diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam
3
Kemandirian penulis
60% peran penulis, 40% pembimbing
80% peran penulis, 20% pembimbing
90% peran penulis, 10% pembimbing
4
Bobot Ilmiah
Rendah – sedang
Sedangtinggi. 
Pendalaman dan pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada
Tinggi, Tertinggi dibidang akademik.   Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
5
Pemaparan
Dominan deskriptif
Deskriptif dan Analitis
Dominan analitis
6
Model Analisis
Rendah – sedang
Sedang – tinggi
Tinggi
7
Jumlah rumusan masalah
Sekitar 1-2
Minimal 3
Lebih dari 3
8
Metode / Uji statistik
Biasanya  memakai uji Kualitatif / Uji deskriptif, Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak), atau Statistik non parametrik (test binomial, Chi kuadrat, run test), uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, Korelasi, Regresi, Uji beda, Uji Chi Square, dll
Biasanya memakai uji Kualitatif  lanjut  /  regresi ganda, atau korelasi ganda, mulitivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistic, Log linier analisis,  ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEM
Sama dengan tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
9
Jenjang Pembimbing/ Penguji
Minimal Magister
Minimal Doktor dan Magister yang berpengalaman
Minimal Profesor dan Doktor  yang berpengalaman
10
Orisinalitas penelitian
Bisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbeda
Mengutamakan orisinalitas
Harus orisinil
11
Penemuan hal-hal yang baru
Tidak harus
Diutamakan
Diharuskan
12
Publikasi hasil penelitian
Kampus Internal dan disarankan nasional
Minimal Nasional
Nasional dan Internasional
13
Jumlah rujukan / daftar pustaka
Minimal 20
Minimal 40
Minimal 60
14
Metode / Program statistik yang biasa digunakan
Kualitatif / Manual, Excel, SPSS dll
Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll
Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll

Setiap komunitas akademik biasanya memiliki aturan sistematika penulisan disertasi berbeda-beda. Kerangka penulisan pada suatu program atau bidang studi bisa berbeda dengan program studi lainnya. Tetapi secara umum, terdapat beberapa bagian seperti (1) Pendahuluan, (2) Kajian Pustaka, (3) Metode Penelitian, (4) Analisis Data, (5) Pembahasan dan (6) Kesimpulan.

b. Research Flow dalam Disertasi
Menurut Dharmawan (2015),
Gambar Research Flow (Dharmawan (2015)

c. Standing Position Peneliti dalam Penyusunan Proposal Disertasi
Dharmawan (2015) mengatakan bahwa sebelum menyusun problem statement dan stare of the art dalam proposal disertasi, satu hal yang perlu diperhatikan adalah posisi awal peneliti dalam penelitian yang diambilnya. Posisi awal tersebut mencakup empat hal yaitu posisi ontologi, epistemologi, metodologi dan aksiologi. Secara singkat, ontologi bertanya tentang “apa”, epistemologi bertanya tentang “bagaimana”, metodologi bertanya “menggunakan apa”, sedangkan wilayah aksiologi bertanya tentang “untuk apa”.
Pencarian terhadap kebenaran seiring dengan tujuan dari filsafat itu sendiri, yakni untuk mencari kebenaran yang hakiki (problem ontologis). Kemudian, timbul pertanyaan bagaimana mendapatkan pengetahuan yang hakiki itu atau sesuatu yang ada sebagaimana adanya (problem epistemologis). Problem berikutnya berkaitan dengan pengaplikasian ilmu yang telah didapatkan pada tataran praktis (problem aksiologis).
Secara lebih jauh, Dharmawan (2015) mengatakan empat standing position yang harus peneliti sebelum menyusun proposal disertasi:
1.      Posisi epistemologis
Posisi ini menanyakan mazhab (teori besar atau theoretical way of thinking atau school of thought) apa yang dianut  oleh peneliti dalam disertasi.
      positivistik,
      konstruktivistik-subyektivistik,
      kritis-dekonstruktivistik.
2.      Posisi Aksiologis
Posisi aksiologis ini akan menanyakan hasil penelitian yang dilakukan akan melakukan pemihakan kepada siapa?
3.      Posisi metodologis
Posisi ini menanyakan metode apa yang digunakan oleh peneliti. Metode kualitatif atau kuantitatif.
4.      Kekuatan ontologis penelitian
kekuatan merangkai conceptual framework akan mempengaruhi kekuatan hasil penelitian

d. Problem Statement dan State of The Art
Problem Statement
1.      Berisi critical Issues terkait dengan topik penelitian.
2.      Critical issues  bias posisi peneliti. Misal: deforestasi/konversi lahan, adalah masalah (yang harus dihindari) bagi penganut peneliti pro-ecology.
3.      Deforestasi/konversi lahan, adalah keniscayaan yang disarankan (yang harus ditempuh demi pembangunan) bagi peneliti aliran pro-growth economy
4.      Berisi discrepancy antara what should dan what is sebuah topik peneltian.
5.      Berisi sejumlah pertanyaan penelitian yang perlu jawaban dalam sebuah riset  what, why, how
State of The Art
1.   Perkembangan terkini tentang suatu topik yang dihasilkan oleh masyarakat peneliti seluruh dunia.
2.   Menentukan dimana kontribusi peneliti dalam riset yang akan dijalankan.
3.   Menentukan novelty (hal baru) apa yang akan disumbangkan oleh peneliti.
4.   Memastikan tidak terjadinya duplikasi, plagiarisme ide, dan redundancy penelitian.
5.   Gunakan 75 persen rujukan bersumber dari Jurnal Internasional  misal www.sciencedirect.com.





IV. KESIMPULAN

Logika adalah Ilmu yang mengevaluasi argumen. Sedangkan argumen adalah sekelompok statemen terdiri dari satu atau lebih premis dan satu kesimpulan (Hurley, 2012).  Logika berhubungan dengan cara atau proses penalaran (reasoning). Ilmunya disebut ilmu logika (logic, the science of reasoning). Jika proses penalaran berjalan dengan baik, maka proses itu disebut logis. Secara umum penelitian merupakan proses penemuan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seorang manusia. Penelitian (riset, research) merupakan proses yang dilakukan manusia untuk mencari kebenaran (truth). Dalam proses itu terdapat tahapan yang diurut secara logis.
Dalam proposal disertasi, sebelum menyusun problem statement dan stare of the art dalam proposal disertasi, satu hal yang perlu diperhatikan adalah posisi awal peneliti dalam penelitian yang diambilnya. Posisi awal tersebut mencakup empat hal yaitu posisi ontologi, epistemologi, metodologi dan aksiologi. Secara singkat, ontologi bertanya tentang “apa”, epistemologi bertanya tentang “bagaimana”, metodologi bertanya “menggunakan apa”, sedangkan wilayah aksiologi bertanya tentang “untuk apa”.






DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Sriyono & Sahrazad (2013), Pilihan Judul Thesis (Studi Kasus di Universitas XYZ Jakarta, Jurnal Formatif 3(3): 184-196
Bintoro, Agung Wahyudi (2009)  Metode Penelitian Ekonomi Islam, Artikel online diakses dari http://wsetiabudi .wordpress.com
Dharmawan, Arya Hadi (2015),  Menyusun Problem Statement dan State of the Art, Makalah Seminar, Institut Pertanian Bogor.
Hurley, Patric J. 2012. A Concise Introduction to Logic, Eleventh Edition. Cengage Learning. , Wadsworth.
http://bloghaliman.blogspot.co.id/2013/01/logika-penelitian-suatu-tinjauan-umum_29.html
http://www.uin-malang.ac.id/r/150201/kesalahan-umum-penulisan-disertasi-sebuah-pengalaman-empirik-tulisan-1.html
http://budiwidyatama.blogspot.co.id/2014/05/perbedaan-skripsi-tesis-dan-disertasi.html